Sering Tak Paham Maksud Demo
SEPINTAS, hampir mustahil membedakan demo asli dengan demo bayaran. Sebab, yang dilakukan para peserta demo bayaran sama persis dengan yang dilakukan demonstran asli.
Meski demikian, tetap ada perbedaan-perbedaan di antara keduanya. Salah satunya, pemahaman mereka terhadap materi dan tujuan demo. Peserta yang dibayar hampir pasti tak memahami, bahkan tak peduli. Contohnya, demo di Surabaya Grand City pada akhir Februari lalu. Ketika wartawan menanyakan alasan berdemo, sejumlah demonstran malah celingak-celinguk kebingungan.
“Bisa juga terlihat ketika terjadi keributan. Demonstran bayaran biasanya langsung kacau dan semburat melarikan diri,” kata Budi Haryanto, aktivis yang pernah menjadi buruh pada pertengahan 1990-an. “Berbeda dari demonstran murni. Jumlahnya relatif sedikit dan solid,” ujarnya.
Taufik Hidayat, salah seorang aktivis penggerak demo di Pusura, mengungkapkan bahwa massa yang dibayar tersebut bukan demonstran. “Sepengetahuan saya bukan demonstrasi, tapi advokasi. Bagi saya, itu adalah improvisasi dari demonstrasi itu,” jelas pria yang akrab dipanggil Taufik “Monyong” tersebut.
Dia menilai, demonstrasi bisa dilakukan untuk dua hal. Yakni, pressure group dan pembentukan opini. “Kalau untuk pressure group, saya lebih condong menyebutnya advokasi. Itu tidak salah karena merupakan bagian dari strategi. Aksi-aksi seperti itu seharusnya berada di bawah biro hukum sebuah organisasi,” tegasnya.
Apa pun namanya, secara sepintas, masyarakat tetap memandangnya sebagai demonstrasi. Misalnya, yang diucapkan AKBP Sri Setyo Rahayu. “Kalau ada orang berkerumun, membawa poster, dan meneriakkan tuntutan-tuntutan, bagi kami, itu tetap demonstrasi. Dan kami memperlakukannya sama. Entah itu demonstrasi, entah itu advokasi,” ujar perwira yang akrab dipanggil Yayuk tersebut. (ano/fat)
Diambil dari Harian Jawa Pos.