Perusahaan Demonstrasi

By alwaysnewbie

Perusahaan Demontrasi…

Itu mungkin yang ada di pikiran kita saat membaca artikel berikut.

Mama Mai: Mamanya Demonstran Surabaya


Maimunah, yang akrab dipanggil “Mama Mai”, bukanlah seorang mama biasa. Bisa dibilang, dialah mamanya demonstran Surabaya. Hampir semua demo menonjol di kota ini selalu melibatkan dirinya atau keluarganya. Mulai ibu sampai anaknya yang masih SMP merupakan penggerak massa yang andal. Kepada Jawa Pos, Mama Mai membeberkan kisah keluarganya.

Kiprah Maimunah, 32, di dunia “perdemonstrasian” Surabaya tak boleh dianggap remeh. Di kalangan Pemuda Pusura (organisasi kepemudaan tempatnya bernaung), perempuan yang akrab dipanggil “Mama Mai” itu merupakan salah seorang pengerah massa terandal.

Berbasis di rumahnya di Jalan Gresik PPI, Mama Mai siap mengusahakan berapa pun massa untuk berdemo dalam waktu sesingkat-singkatnya.

“Tiap kali order massa, tak kurang 200 sampai 300 orang bisa dia siapkan. Bahkan, ketika mendadak sekalipun,” kata Luko Djojo, 52, ketua Pemuda Pusura.

Bukan hanya jumlah, sebagai koordinator lapangan (Korlap), Mama Mai bisa menyiapkan tipe massa sesuai kebutuhan. Misalnya, khusus demonstran perempuan. “Pokoknya, kalau cari demonstran cewek, tinggal hubungi Mai saja,” tegas Taufik “Monyong”, salah seorang pengerah massa lain Pemuda Pusura.

Karir Mama Mai di bidang “demonstrasi” itu dimulai pada akhir 2003. Waktu itu, pekerjaannya sudah tergolong keras. Menjadi seorang bodyguard di sebuah perusahaan sekuriti swasta. “Ya, ketika saya masuk Pusura. Di sana, saya belajar banyak dari Cak Luko (Djojo). Semuanya. Boleh dikata, dialah yang membuat saya mengetahui banyak hal,” ungkapnya.

Baru saja masuk di Pusura, Mai langsung menyatakan sanggup ketika ditantang Luko untuk menyiapkan sejumlah massa. “Saya sudah yakin, karena teman saya cukup banyak. Boleh dibilang, saya ini dulu suka keluyuran. Selain itu, teman kerja saya juga saya ajak,” tuturnya.

Waktu kali pertama mencari massa itu, untuk memenuhi order, Mai juga mengajak hampir semua anggota keluarganya. Mulai sang ibu, Marsiyah; kelima adiknya; sepupu-sepupu; juga anak sulungnya yang waktu itu masih berumur sekitar sepuluh tahun.

Bagaimana Mama Mai merayu orang-orang, termasuk keluarga, untuk ikut berdemo? “Ya saya langsung bilang ayo ikut. Mau dapat uang atau tidak?” ujarnya blak-blakan.

Semula, pihak keluarga memang sempat ragu. Mereka takut berurusan dengan polisi. Namun, Mai meyakinkan bahwa demo yang akan dilakukan tergolong aman. Dan seperti yang diperkirakan, debut demo keluarga itu -di Pengadilan Negeri Surabaya- memang berlangsung aman.

Waktu itu, honor per kepala untuk demo Rp 30 ribu. “Itu jumlah yang lumayan. Sekarang begini saja. Kerja cuma tiga jam, berteriak sekali-sekali, terus pulang. Dapat Rp 30 ribu. Bayangkan, mbecak berapa lama untuk mendapatkan uang sebanyak itu,” tegasnya.

Sejak saat itu, Mama Mai sering mendapat pesanan massa. Sejak saat itu pula, keluarga Mama Mai ikut menjadi penggerak massa. Dalam setahun terakhir, “kekuatan” mengerahkan massa itu bertambah satu. Mama Mai (yang sebelumnya bercerai) menikah lagi dengan Bagus Sanjaya, karyawan sebuah perusahaan kontraktor. Bagus sekarang ikut membantu sang istri mengumpulkan massa.

“Mau pesan berapa? Ribuan? Kami sanggup!” ujar Bagus lantas tersenyum.

Mama Mai mengungkapkan, suasana di dalam rumah sangat penting untuk “membentuk keluarga demonstran”. Dia bilang, semua anggota keluarga harus seperti teman. “Mau mengemukakan pendapat apa saja boleh. Bahkan, kami blak-blakan,” katanya.

Ketika diwawancarai Jawa Pos, keluarga itu memang terkesan sangat guyub. Syafi’i, anak Mama Mai yang sekarang berumur 15 tahun, dengan bebas menggojlok sang ibu dalam wawancara tersebut.

Sekarang ini, sudah menjadi pemandangan lumrah ketika rumah Mama Mai dipenuhi banyak orang. Setiap usai berdemo, mereka memang kompak berkumpul di sana menunggu upah demo. Biasanya, usai demo, Mama Mai memang pergi dulu ke kantor Pusura untuk ambil uang. Baru kemudian membagi-bagikannya kepada peserta demo.

Selama ini, para peserta demo selalu senang dengan job yang ditawarkan Mama Mai. Saking senangnya, masyarakat sekitar sering bertanya soal demo. “Ma, gak onok demo maneh ta? (Ma, tidak ada demo lagi kah?),” tanya mereka.

Selama bertahun-tahun menjadi pengerah massa, Mama Mai tentu punya banyak kisah menarik. Salah satunya pada 2007. “Saya tidak ingat bulannya. Ketika itu, bapak (Luko Djojo, Red) order 200 warga pada malam hari. Padahal, rencana demo sudah dilakukan besok siangnya. Repot juga kalau malam-malam,” ungkap Mama Mai.
Keluarga Mama Mai
Akhirnya, dia meminta bantuan Syafi’i, sang putra sulung. Bocah kelas tiga sebuah SMP di kawasan Surabaya Utara itu pun mengajak teman-teman sekolahnya. “Teman-teman justru senang diajak demo,” ujar Syafi’i.

Kisah unik lain terjadi pada tahun yang sama. Waktu demo di depan kantor sebuah partai politik besar, Mama Mai sempat nekat meminta konsumsi dari polisi. Sebab, seksi konsumsi terlambat datang, dan massanya sudah teriak-teriak kelaparan.

“Saat itu, saya memanjat pagar. Merayu polisi (yang berjaga) untuk memberi makanan. Dan ternyata saya diberi nasi bungkus seplastik besar,” ceritanya. “Timbang diamuk wong-wong, mending tak jalukno polisi ae mangane (daripada dimarahi orang-orang, lebih baik saya memintakan saja ke polisi, Red),” ujarnya.

Selain itu, Yuniar -adik ipar Mama Mai- pernah diganjeni (ditaksir) polisi saat berdemo. “Polisinya sudah tua, pangkatnya kecil, jelek lagi. Dia merayu Yuniar. Bukannya menata demonstran, tapi malah menggoda-goda. Dia bilang Yuniar manis,” tutur Isaroh, adik Mama Mai.

Waktu itu, yang panas adalah Marzuki, adik Mama Mai yang juga suami Yuniar. Dia berteriak kepada polisi itu untuk tidak mengganggu sang istri. “Biasa lah. Kalau demo itu, ada polisi yang sedikit ganjen, menggoda demonstran perempuan yang cantik,” ungkap Isaroh.

Mengenai “usaha keluarga” itu, Mama Mai sadar bahwa tak bisa selamanya dijadikan sandaran hidup. “Penginnya sih tiap hari ada order demo. Tapi, itu kan tidak mungkin. Bagi saya, ini adalah kerja sambilan. Namun, saya serius menekuninya,” tegasnya.

Menekuni sampai kapan? “Sampai saya capek,” katanya.
Mama Mai mempersilakan orang untuk menilai apa pun jalur hidupnya tersebut. “Yang jelas, sepanjang tidak merugikan orang lain dan membantu para penganggur yang banyak terdapat di lingkungan kami, saya baik-baik saja. Saya tak terlalu memusingkan apa pun pendapat orang,” ungkapnya.

Mama Mai menegaskan, apa yang dia kerjakan justru menjadi salah satu alternatif penyelesaian dari masalah pengangguran. “Minimal, bisa memberi lapangan pekerjaan bagi para pengangguran. Meski tak bisa rutin,” ujarnya. (kardono setyorakhmadi/aza)

Diambil dari Harian JawaPos.

Tinggalkan Balasan